Demo Site

Senin, 19 September 2011

untuk yang terkasih




menatap bening matamu
ibu

yang menghangatkan
yang menenangkan
menghapus segala gundah

teduhnya wajahmu
ibu

singkirkan mendung dihati ku
dihati kami
anak2mu

wibawa dalam suaramu
ayah

kokohkan tegak ku
kuatkan langkahku
hilangkan setan2 pesimis dalam diri

ketenangan dalam dekapmu
ayah

buatku tegar
hingga air mata ini mampu kutahan
hingga lelah itu seketika lenyap
membaur bersama angin yg berlalu

dalam lingkaran kasih sayangmu
dalam dekapan ukhwahmu
saudara-saudariku

yang mampu buatku bertahan
mendaki puncak terjal berkerikil ini

gengamman tangan itu 
saudariku

buatku yakin
ku bisa gapai cita

untukmu yang terkasih
ibu, ayah, saudara/iku

kuberikan segenap cinta
mencintai karena-Nya
jangan lepas genggaman itu
jangan lepas ukhwah itu

karna kuingin kita bersama
dalam cinta, dengan cinta
meraih cinta-Nya


*dari yang penuh cinta
_maya. IKLAS'10

Minggu, 18 September 2011

catatan manusia biasa




derap langkah kaki itu terkesan buru-buru
mungkin ia terlambat kuliah atau kerja
hingga ia tak lagi memperhatikan sekitar

laluu...
"aduh, kalau jalan hati-hati donk, udah tua juga"
gadis itu menabrak seorang nenek renta
marah, menyumpah dan ia berlalu pergi

nenek itu terlihat murung, sedih
lalu aku dekati dia
"nenek ga kenapa2 kan?, ada yang sakit?"
," tidak nak, hanya saja.." kalimat itu terputus oleh tangisan sang nenek
"kenapa menangis nek? mungkin ada yang bisa saya bantu.."

ternyata saat tertabrak tadi
ada yang jatuh, terlepas dari genggaman sang nenek
obat, dan beberapa bungkus lontong sayur untuk anaknya yang tengah sakit
bungkusan itu pecah, tak terselamatkan
begitupun obatnya, terkena kuah

siapa yang harus bertanggung jawab?
sedangkan sang gadis tak tampak lagi
tak terfikirkah olehnya?
akibat fatal karena kecerobohannya

***

saudara/iku
terkadang kita tak menyadari
seringkali kesalahan melingkupi diri
hingga orang lainpun terzholimi

terlalu sibuk mencari2 kesalahan pada orang lain 
hingga borok diri yang sungguh terlihatpun diabaikan
menghujat, memaki diri atas kesalahan orang lain
namun lupa mengkoreksi kekurangan diri

meminta maaf
memaafkan
"gampang kata2nya, tapi sulit merealisasikannya"

mengapa anda begitu pesimis pada kemampuan diri?
belum dicoba, namun tlah pasang kuda-kuda untuk menyerah
berusahalah
ikhlaslah
maka meminta maaf, memaafkan
akan terasa begitu melegakan

saya teringat sebuah lirik nasyid

Bukalah mata hati, bukan mata benci
Kita bukanlah Sang Hakim 
Yang layak untuk menghukum
Kita juga pernah tersalah, dan bersalah
Bencilah sekedarnya
Maafkanlah kekhilafannya…walau 

Kita bukanlah manusia yang sempurna
Janganlah merasa seolah tanpa noda
Kita hanya manusia yang penuh khilaf salah
Maafkanlah ia bila hatimu terluka
Karena kita bukan sang hakim

yaa, kita bukan Sang Hakim
Hanya Allah yang pantas untuk menghukum
kita bukan orang suci yang tak perlu untuk meminta maaf
dan kita juga pernah bersalah sepertinya
maka maafkanlah

*yang berusaha berbagi dalam kekurangan,
_maya febrianti.IKLAS'10

Jumat, 16 September 2011

o Kasih Sayang Rasulullah terhadap Keluarga





bismillahirahmanirahim

Ibnu Umar pernah datang kepada Aisyah RA dan berkata, “Izinkan kami di sini sejenak dan ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari semua yang pernah engkau saksikan pada diri Nabi.”

‘Aisyah menarik nafas panjang. Kemudian dengan terisak menahan tangis, ia
berkata dengan suara lirih, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba. Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku.”

Kalau ‘Aisyah istri Rosulullah berkata, “ Ah, semua perilaku suamiku menakjubkan bagiku.”. Kira-kira apakah yang akan diucapkan oleh istri
kita jika kita sebagai suaminya ditakdirkan meninggal lebih dulu. Kita juga tidak tahu apakah yang akan diucapkan oleh anak-anak kita tentang orangtuanya.

Semuanya terpulang kepada kita. Apakah kita mau mencoba untuk menjadi bapak dan suami yang lebih menyejukkan hati –meski harus gagal berkali-kali—ataukah kita merasa telah cukup mulia dengan perhatian kita yang tak seberapa.

Banyak para bapak enggan mengusapkan tangan ke pipi anaknya yang sedang meneteskan airmata. Mereka juga tidak pernah menyempatkan diri, meski cuma sekali, untuk membaringkan tubuh anaknya yang letih hanya karena mereka merasa telah banyak berjasa dengan mencari uang yang tak seberapa.

Mereka ingin dihormati oleh anak-anaknya, tetapi dengan menciptakan jarak sehingga anak tak pernah sanggup mencurahkan isi hatinya kepada bapaknya sendiri. Mereka ingin menjadi bapak yang disegani, tetapi dengan cara membangkitkan ketakutan. Padahal Rasulullah Saw. sering mencium putrinya, Fathimatuz Zahra. Bahkan ketika putrinya telah beranjak dewasa.

Berikut ini teladan dari Junjungan Kita SAW :

Aisyah r.a.: Ada seorang Arab dusun datang kepada Nabi Saw. sambil berkata, “Engkau mencium anak-anak, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka.” Nabi Saw. menjawab, “Apa dayaku apabila Tuhan telah mencabut kasih-sayang dari hatimu.” (HR. Bukhari).

Nabi Saw. mencontohkan bagaimana menyayangi anak. Pernah Rasulullah Saw. menggendong cucunya, Umamah binti Abi Al-Ash, ketika sedang shalat. Jika rukuk, Umamah diletakkan dan ketika bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat kembali.

Pernah juga Rasulullah Saw. bermain kuda-kudaan dengan cucunya yang lain,Hasan dan Husain. Ketika Rasulullah Saw. sedang merangkak di atas tanah,sementara kedua cucunya berada di punggungnya, Umar datang lalu berkata,“Hai Anak, alangkah indah tungganganmu.” Rasulullah Saw. menjawab,“Alangkah indahnya para penunggangnya!”

Tak jarang Rasulullah Saw. menghadapi anak-anak dengan sikap melucu. Bila mendatangi anak-anak kecil, Rasulullah Saw. jongkok di hadapan mereka, memberi pengertian kepada mereka, juga mendo’akan mereka. Begitu hadis riwayat Ath-Thusi menceritakan.

Sementara Usamah bin Zaid memberi kesaksian, “(Sewaktu aku masih kecil ) Rasulullah Saw. pernah mengambil aku untuk didudukkan pada pahanya, sedangkan Hasan didudukkan pada paha beliau yang satunya, kemudian kami berdua didekapnya, seraya berdo’a, “Ya Allah,kasihanilah keduanya, karena aku telah mengasihi keduanya.” (HR. Bukhari).

Abu Hurairah ra pernah menceritakan: “Rasulullah saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira.

Pernah Beliau sholat sambil menggendong Umamah putri Zaenab binti Rasulullah saw dari suaminya yang bernama Abul ‘Ash bin Ar-Rabi’. Pada saat berdiri, beliau menggendongnya dan ketika sujud, beliau meletakkannya. (Muttafaq ‘alaih)

Kisah tentang Rasulullah Saw. bersama anak adalah kisah tentang
kasih-sayang. Ia memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak. Karena anak pula, Rasulullah Saw. pernah bersujud sangat lama. Begitu lamanya Rasulullah Saw. bersujud sampai-sampai para sahabat mengira Rasulullah Saw. sedang menerima wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah, ada cucu yang menaiki punggungnya.

Tentang mencintai anak, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Cintailah
anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR. Ath-Thahawi).

Air mata Nabi Muhammad saw menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim, Abdurrahman bin ‘Auf ra bertanya kepada beliau: “Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Ta’ala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari)

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Nabi Muhammad saw tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.

Hari ini, ketika kita mengaku sebagai ummat Muhammad, apakah yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita? Apakah kita telah mengusap kepala anak-anak kita sebagaimana Rasulullah Saw. melakukan? Apakah kita juga telah mengecup kening anak-anak kita yang sangat rindu kasih-sayang bapaknya?

Ataukah kita seperti Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang tak pernah
mencium anaknya, sehingga Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari).

Kita ingin disayangi oleh anak-anak kita ketika usianya telah tua, tetapi
tidak pernah menanam cinta dan kasih-sayang. Kita ingin dirindukan oleh
anak-anak kita di saat renta, tetapi tak pernah punya waktu untuk tertawa bersama. Banyak yang merasa, kerja sehari telah cukup untuk membeli semua. Sehingga tidak ada yang mengetahui urusan anak di rumah, kecuali istri. Bahkan yang lebih tragis, istri pun tak tahu sama sekali, sebab telah ada pembantu yang menggantikan semuanya.

Astaghfirullahal ‘adzim. Alangkah sering kita merasa suci, padahal sudah seberapa banyak perilaku Nabi Saw kepada anak atau istri yang sanggup kita contoh.

Salam ’alaika Ya Rosulullah

smoga bermanfaat

Kamis, 15 September 2011

garis singkat hidupku


kisah ini bermula 6 tahun yang lalu
saat memasuki usia awal pubertas q, aq mulai mengenal lelaki 
sebut saja namanya riki
yaa, orang pertama yang memperlalukan ku sbagai wanita
saat orang lain meragukannya
(aq remaja yang tempramen, rasanya semua permasalahan dapat kuselesaikan dengan kekerasan)
sahabat yang mengajarkanku kelembutan, arti persaudaraan
yang bahkan dengan tegas memarahiku saat ku berbuat kesalahan
dia yang pertama

sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi
kecelakaan motor hingga ia dipanggil sang pencipta
hari itu sabtu, 19 Agust 2006
(setahun lamanya aq membenci sabtu :'(    )
sahabat yang dipenghujung nafasnya masih saja menasehatiku
" jangan tampakkan air matamu pada yang lain, mengadulah hanya kepada Allah"
ya Robbi,,,
aq tersentak saat itu

kejadian itu masih membekas
hingga aku masuk di salah satu sekolah kejuruan negri dikota ku
hingga saat itu
tak ada satupun lelaki yang pernah mengusik hatiku
kupilih salah 1 kegiatan eskul keagamaan
tak lain sebagai bentuk kekesalanku (yang tak kusangka mengantarkanku pada diriku yang baru)
karna tak di izinkan mengambil kegiatan ilmu bela diri
dengan alasan yang tak ku mengerti 

1 tahun pertama sekolahku berjalan lambat
kebosananpun menyelimuti
aq bingung pada diri ini
apa sebenarnya yang dia inginkan

sahabat
sebuah buku menggugah fikiranku
buku pertama yang masih kubaca hingga sekarang
"sekuntum mawar untuk remaja: Ust.Jefri Al-Bukhori"
aq takut, memang tak pernah kulanggar batas pergaulan yang baik
tapi aq takut Allah murka padaku
hingga intens ku jalani akrifitas Rohis skolahku
mejabat sbg salah satu koordinator

Sahabat...
hari yang indah saat itu
saat ku mulai menjalani aktifitasku menjadi siswi kelas 2godaan itu muncul kembali
aq menaruh perhatian pada kakak tingkatku
dy ikhwan yang baik
sering kutemui di mushola atau kantin sekolah

sampai akhirnya
dia menjalin hubungan dengan teman baikku
sakit
saat itu hati ini teriris (kurang lebih begitulah, namun rasa itu tetap sulit untuk ku gambarkan)
lebih sakit lagi
saat mereka bermesraan dihadapanku
melebihi cemburu, rasa kecewaku lebih besar
bukan karna ia bersama sahabatku
namun aq sadar
bukan itu yang diajarkan islam
dia berubah
dia bukan seperti ikhwan yang aq harapkan lagi

sudahlah,
setelah beberapa kali menasehati mereka
akhirnya ku putuskan untuk menghiraukannya
masih banyak borok diri yang harus kubenahi dibanding memikirkan mereka
aq mulai fokus lagi dengan sekolahku

dan,,
hari yang ku nanti datang
pengumuman kelulusanku
kebahagiaan tak terkira yang kurasa
saat namaku berasa diurutan atas
Alhamdulillah
trimakasih ya Allah
perjuangan ini tak sia-sia
kabar yang kuharap dapat sedikit menghapus lelah orang tua ku

hingga hidayah itu pun diterima hatiku
malam itu aq bermimpi
nenek (yang meninggal di tahun 1998) dan sahabatku riki (yang meninggal ditahun 2006)
memberi pesan padaku
wajah beliau yang berseri dengan senyum teramat manisnya
berkata : "berubahlah!!"
satu kata yang membuatku merubah gaya hidupkutak ada lagi kekerasan 
aku mulai belajar membenahi diri, meski masih banyak kekurangan hingga saat ini
sahabat,,,
baru saja kumulai hari2 baruku
namun tampaknya aku di goda lagi
kontak yang setahun terputus
kakak tingkat ku mulai menghubungiku lagi
menceritakan keluh kesahnya
"ternyata indahnya pacaran tak seperti yang ku bayangkan dek, sahabatmu mengkhianatiku"
aku heran,, tak ada rasa simpatik ku padanya lagi
rasa itu benar2 hilang entah kemana
"maaf kak, aq tak ada hubungan dengan  urusan kalian", egois memang, namun hanya itu yang mampu ku ucap
hari itu, sungguh aq bersyukur pada Robb ku

ya Allah
dibalik sakitku dulu
ternyata ini yang Kau tampakkan padaku
aq sadari
tak selamanya 
yang membuatku bersedih adalah musibah untukku

seandainya ia menyukai ku dulu
mungkin keadaan ini berbalik padaku
selalu bimbing aq ya Robb

aq selalu belajar, membaca
masih penasaran tentang cinta
hingga aku bertemu seorang dokter
kak Vina namanya
aq kagum
melihat kemesraannya bersama suaminya
lalu kuberanikan untuk bertanya
"apa resepnya kak"

dan ia pun bercerita singkat:

kakak pernah hampir menikah, bersama seorang pria yang manjalani hubungan bersama kakak selama hampir 7 tahun
namun kakak sadar, bukan itu yang kakak inginkan
keinginan semua wanita
"menikah", namun tak pernah ditanggapinya
kakak gerah, lalu meninggalkannya
hingga kakak bertemu abi (wajahnya bersemu merah),
sebulan sebelum kami menikah
dia suami dan imam yang bijaksana
dan usia pernikahan ini sudah 8 tahun
dan kami masih manikmati indahnya pacaran yang halal hingga saat ini

aq termenung sahabat
akhirnya ada kesimpulan yang bisa ku ambil
pacaran bukan tujuan yang diinginkan setiap insan
melainkan pernikahan
dan tak ada yang menjamin
lamanya pacaran dengan berlangsungnya pernikahan

"cinta yang sepantasnya kita beri, setelah ijab qabul, setelah ia menjadi halal bagi kita"
ya Allahbantulah diri ini untuk istiqomah 

sahabat
maafkan
atas seutas kisah ini
kisah yang akan selalu menjadi pengingat 
khususnya untuk diri sy pribadi


by: Maya Febrianti
26 Juni 2011


seuntai kisah dari gubuk tua



lelah,,
dengan rasa kantuk yang masih menyelimuti
kumulai aktifitas pagi ini
antara semangat dan tidak

jalan ini masih sama
masih serupa dengan yang aku lalui
kemarin, minggu lalu, entah dari kapan
yang pasti belum ada yang berubah sejak pertama kali ku jejaki

pandanganku tertumpu pada sebuah rumah atau mungkin gubuk
rasanya gubuk itu slalu terkunci
dengan gembok usang yang mlekat dipintunya
dulunya aku fikir itu hanya bangunan tak berpenghuni
tapi kali ini pintu dan jendelanya terbuka lebar
ada apa??

penasaran
ku dekati gubuk itu
lihatlah, 
ada pasangan renta disana
seorang kakek yang terbujur lemah diatas dipan tak berkasur
disampingnya sang istri duduk
kain dan mangkok berisi air ditangannya
dengan senyum tulus terukir diwajahnya

mereka menoleh padaku
tersenyum :')
* ya Allah, guratan lelah tak bisa bisa bersembunyi dibalik senyum itu
aku dipersilahkan masuk

sahabatku..

mereka, pasangan yang hidup dalam limpahan kasih sayang
yang mulai menjajaki jalanan disaat orang2 masih terlelap
mencari apa saja yang masih bisa ditukar dengan rupiah2 penyambung hidup
kaleng bekas, botol bekas
apa saja yang diterima penadah

mereka pasangan yang ditinggal kedua anaknya
merantau karna tak tahan makan dengan lauk seadanya
karna tak tahan dengan jalan hidup yang tak kunjung berubah
ingin mencari peruntungan hidup sendiri

kali ini kakek jatuh sakit
untuk yang kesekian kalinya

sempat kubertanya
apa yang mereka rasa?
aku fikir di usia mreka yang telah senja ini
harusnya mereka hidup lebih baik
berkumpul di tengah keluarga
bersama anak cucu yang menyayanginya
didalam rumah yang tak bocor ketika hujan turun

ya Allah
mereka hanya tersenyum
memuji Keagungan-Mu
tak ku dengar sepatah keluh kesah darinya
sepatahpun tidak

" kasih sayang Allah sungguh terasa sangat dekat dengan kami, kami yang masih saling memiliki
udara yang masih bebas untuk kami hirup, dan hidup bukan dari belas kasih orang lain
cukup untuk menguatkan kami.

Bukan kesenangan harta yang kami cari
namun hidup dalam Ridho-Nya lah yang kami damba "

begitulah kata2 kakek yang masih kuingat sampai kini

wahai diri
becerminlah..
adakah kau tersenyum dalam sakitmu?
adakah kau bersyukur dalam sehatmu
dalam bahagiamu
dalam keluarga yang masih lagi bersamamu

pernahkah kau melihat kebawah
masih banyak lagi
orang-orang yang tak lebih baik kehidupannya
yang tak seberuntung dirimu

orang-orang yang mengais rezki dari apa-apa yang teah kau buang
yang tidur ditempat-tempat yang mungkin kau sebut kandang
kau belum lagi sesulit itu

lalu apakah yang membuatmu sering murung??
apa yang membuat hatimu selalu saja mengeluh??
kau masih jauh lebih beruntung
bersyukurlah !!
tersenyumlah !!
bagikan bahagiamu pada orang2 yang butuh

bahkan kebahagiaan itu , rasa syukur itu 
ada didalam rumah yang kusangka gubuk derita

bahkan kasih sayang kutemui dalam 2 tubuh renta

_maya

Selasa, 13 September 2011

cinta seperti apakah??


Cinta,,
Jika kuurai sajak nya
Sungguh halus penuh makna
Yang membuat sakit jadi tak terasa
Yang merubah duka menjadi bahagia

Cinta..
Logika pun tak dapat mengartikan nya
Karna sejatinya arti cinta
Adalah cinta itu sendiri

Lalu cinta seperti apakah?
Yang mnjadi tujuan hidupmu

Cinta seperti apakah?
Yang kan kau jadikan pegangan ketika goyahmu

Cinta seperti apakah??

Apakah cinta yang telah kau setir kemudinya
Yang kau baurkan dengan kemaksiatan
Yang tlah kau nodai kesuciannya

Cinta yang kau landaskan atas dasar nafsu
Cinta yang kau timbulkan karna egomu


Atau cinta yang senantiasa kau jaga hakikatnya
Cinta yang menyembuhkan
Cinta yang bermuara pada Sang Pemilik cinta hakiki

Cinta yang manakah??

Pantaskah kau ungkap cinta
Jika itu akan mengotori hatinya

Pantaskah kau semayamkan cinta
Sedang kau belum lagi halal baginya??

Pantaskah kau sebut itu cinta
Sedangkan hatimu menuhankan nafsu belaka?

Lalu bagaimana kau menjaga kesucian cinta?
Sedangkan kau berbuat jahat atas namanya

Lalu bagaimana kau menjaga arti cinta?
Sedangkan kau sewenang2 memperlakukannya

Lalu bagaimana kau bahagia dengan cinta

Sedangkan cintamu bukan karena-Nya
Dan dunia lebih engkau cintai melebihi cintamu pada-Nya

Telusuru kembali makna cinta sesungguhnya
Lalu jawablah..
Cinta seperti apakah yang kau cari??

#MF_