Demo Site

Rabu, 09 Desember 2015

Bahagia, Dirimu Nahkodanya

Menilik makna tentang kebahagiaan terkadang membuat hati ini bertanya tentang keberadaannya, tentang penyebab dan dari mana asalnya. Sehingga kita selalu mencari-cari diluar diri, dimana kebahagiaan itu.

Sementara manusia adalah makhluk yang takkan pernah merasa tercukupi, sehingga terkadang kebahagiaan itu tampak samar-samar di ujung jalan.

Kadangpula kita menyalahkan orang lain yang dirasa tidak ikut dalam perjuangan membahagiakan kita, atau dirasa menghambat kebahagiaan kita. Sehingga tak jarang hati memaki dari dalam atas ketidakmampuan mereka.

Padahal hati adalah milik kita sendiri dan kebahagiaan menjadi tanggungjawab kita sendiri. Kitalah nahkoda yang punya kendali untuk melabuhkan hati di dermaga bahagia, maka tak pantas rasanya membahagiakan hati kita menjadi tanggung jawab orang lain.

“Jika ingin bahagia, jangan meletakkan sebuah syarat untuk kebahagiaan itu. Syukurilah yang kau miliki, dan berbahagialah atas keadaanmu saat ini”, kata-kata dari seorang dosen ini seolah menari di fikiranku. Ya, seringkali kita sendiri yang mempersulit perasaan bahagia itu muncul dihati. Meletakkan sebuah syarat yang masih butuh perjalanan jauh untuk mencapainya.

“Aku akan bahagia jika memiliki rumah”, “Aku akan bahagia jika bisa keliling Eropa”, “Aku akan bahagia jika memiliki suami yang tampan dan perhatian”, dan yang paling miris lagi adalah merasa akan bahagia jika memiliki kehidupan seperti saudaranya.

Kita terlalu larut berkeliling di luar diri sehingga kita lupa dengan banyaknya nikmat yang sudah Allah beri, kita terfokus kepada apa yang tak dimiliki sehingga kita lupa betapa banyak punya kita yang orang lain tak miliki.

Percayalah, disaat kita inginkan kehidupan orang lain, pada saat itu juga banyak yang inginkan kehidupan seperti yang kita miliki hari ini.
Maka bersyukurlah, dan berbahagialah..

Pekanbaru, 10 Desember 2015
Yang sedang berusaha untuk selalu bersyukur

Maya

Minggu, 29 November 2015

Receh Penyambung Hidup

receh demi receh yang terkumpul kini tlah cukup tuk membeli sebungkus nasi...
kepingan2 yang tak seberapa itu mampu  mengubat lapar seorang manusia
aku tak mengeluh
tak pernah... hanya menjalani
hanya menapaki..
langkah demi langkah

sejenak aku berhenti
bersandar pada sebatang pohon
dipinggir jalan ini..
memandang sekitar
sejenak rehat sembari membuka bungkusan nasi, 
sesuap..
lagi dan lagi...

receh demi receh penyambung hidup
lembaran-lembaran seribu rupiah
terkadang dengan nominal lebih besar ikut menemani
hasil kerja keras..
yaa..
ini hasil keringatku sendiri
rezeki dari Ilahi..

jangan kalian kasihani aku..!!
tak pernah ku ulurkan tangan meminta belas kasih
dari kalian yang lalu lalang dengan sedan mewah
dengan Jas yang rapi mengkilat

aku fikir
kalianlah yang patut ku kasihani
tak kulihat seraut senyum tergambar diwajah kalian
aku iba !!
pada kalian yang sibuk dengan urusan dunia

di dalam sedan mewah itu kalian terpaku
lurus pandang kedepan
lalu kiri kanan??
ku rasa melirikpun tidak

tak sadarkah kalian??
di kiri ada bocah dengan baju rombeng mengetuk jendela mobilmu?
di kanan ada kakek cacat yang menjajakan minuman
menolehpun kalian enggan!!

hei !!
dimanakah hati??
masih adakah nurani??
oh Allah..
siapakah mereka yang begitu angkuh dengan titipan-Mu?

receh demi receh penyambung hidup
ku kais rezeki dari sampah-sampah kalian
sebisa mungkin ku berbagi
meski hanya sesuap nasi
meski hanya segelas air

sungguh miris....

hai engkau yang hidup,
yang dititipi nyawa dan harta
sadarlah..
kau hanya dititipi, diberi hak pakai bukan hak milik
apa yang kan kau jawab jika Pemilik titipan itu bertanya
tentang bagaimana kau menggunakan titipannya??

oh sudahlah..
cukup sudah rehat ini
dengan pemandangan yang menyesakkan hati
saatnya ku kembali melangkah
kumpulkan kembali receh demi receh
untuk makan malam nanti

maafkan jika jerit hati ini terdengar
semoga kita punya jawaban terbaik
untuk satu pertanyaan-Nya itu nanti

___________________________________________________________________________

ditemani ributnya suara kodok -,
pku, 2 Des 2011
22.07 wib
::ana habibah::

*inspirasi dari Ilahi

Sisa Bom Semalam

kaki-kaki kecil milik dia yang berhati besar
berlari
berpacu dengan waktu
tinggalkan ummi dengan senyum mengembang
ransel-ransel bertengger di punggungnya
ada beberapa batu di dalamnya
ketapelpun dikalungkan
"ana berangkat ummi, do'akan ana bisa menghabisi mereka hari ini"

kaki-kaki kecil milik dia yang berhati besar
langkah demi langkah menyusuri jalan kecil yang berdebu
diantara reruntuhan bangunan
diantara puing-puing, sisa bom semalam
tiada gentar

tapi lihatlah, kaki-kaki kecil itu terhenti
berdiri kaku di depan sebuah reruntuhan bangunan
airmata jatuh tak tertahankan
amarah begitu membuncah
"HEI KALIAN LAKNATULLAH !! JANGAN PADA SEKOLAH KAMI !!"
hingga serak bibir mungil itu berteriak
yang aku tahu, kemarin bangunan itu masih utuh
satu-satunya tempat yang tersisa untuk menuntut ilmu, untuk benar-benar berlaku seperti usia mereka
bermain dalam canda meski hawa makin mencekam

amarah itu tak terbendung
tanpa gentar kaki-kaki kecil itu berlari
lebih tegap, teramat gagah
berlari melewati gelimpangan mayat
melewati tanah gersang sisa bom semalam

lihatlah ia.. disana
kini berdiri didepan tank raksasa
tubuh mungil yang tanpa gentar
lihatlah amarah diwajahnya
lihatlah keyakinan dimatanya

"HEI KALIAN LAKNATULLAH !!, TUNGGULAH MURKA ALLAH"
ketapel sigap ditangannya, kepal tangan menggenggam batu-batu kecil yang tlah ia siapkan
dia LAKNATULLAH berdiri menantang tubuh mungil itu dengan travo ditangannya

imbangkah?
ya Robbi...
hanya sekali tembakan
seketika tubuh mungil itu terkulai tak berdaya
cucuran darah mengaliri tanah-tanah gersang palestine
senyum menyambut taman firdaus terpancar
dari bening wajah mungil itu

tawa sang LAKNATULLAH membahana
bagai melolong atas kemenangannya
terkutuklah kalian, para keturunan kera

hanya tubuh terkulai itu yang pulang
dibopong tanpa nyawa
bertemu ummi yang sedari tadi menanti
hanya tangis tertahan
hati yang begitu hancur
"istirahatlah anakku, bermainlah di taman firdaus-Nya"

Rabu, 11 November 2015

Jangan Sulitkan Dirimu, Objektifitaskan Penilaianmu!

“Jangan mau kuliah psikologi, nanti kamu bisa gila”, “Hati-hati dengan Dosen yang itu, galak!” dan banyak sekali penilaian-penilaian subjektif yang menari-nari di sekitar telinga kita. Bukan hanya itu, bahkan kadang mereka yang belum pernah bicarapun ikut angkat bicara. Dan apa yang akibatnya? Yang dipengaruhi urung melangkah.

“Bekerja sebagai akuntan itu memusingkan!”, “Bekerja sambil kuliah itu mustahil dilakukan!”. Lalu timbullah kesimpulan dari penilaian itu yang berakibat dihiraukannya kesempatan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali penilaian subjektif yang dilontarkan ketika kita hendak memulai sesuatu. Banyak hal terutama yang negatif terhadap keputusan baik yang akan kita ambil. Lalu siapakan yang dirugikan ketika kita menyerah karena hal yang belum pasti terjadi? Bukan mereka yang seenaknya berucap teman, tapi kitalah yang merugi.

Adakah jaminan atas ucapan yang diangkat jadi pembicaraan itu adalah sebuah kebenaran? Adakah fakta-fakta terungkap hingga kita berani menarik kesimpulan? Maka Objektifkanlah penilaianmu, jalani hingga kau rasakan sendiri dan kumpulkan faktanya.

Penilaian subjektif itu sebagian besar hanyalah sebuah opini, penilaian-penilaian pribadi yang mereka ungkapkan hanya karena melihat satu dua kejadian. Tak sedikit lulusan psikolohi yang berhasil bukan? Tak sedikit pula dosen yang digelar galak itu memberi peran bagi kesuksesan. Banyak akuntan yang mumpuni, bahkan ketika mereka kuliah sambil bekerja sekalipun.

Lalu apakah yang membuatmu masih saja menyusahkan diri dengan terpengaruh oleh pendapat negatif mereka? Hingga kau sia-siakan berjuta kesempatan di depan mata. Apakah yang membuatmu urung melangkah sedang susah senangnya kau yang rasa

Dan janganlah susahkan hidupmu dengan pemikiran negatif, objektifitaskanlah penilaianmu. Jalani dan temukan faktanya!




Selasa, 10 November 2015

Bersyukurlah, yang kau sukai diberi Allah sesekali..

Kebahagiaan itu seperti makanan kesukaan, yang tiap kali nikmati, memberikan kepuasan tersendiri. Coba bayangkan jika makanan kesukaanmu disuguhkan setiap hari. Perlahan kepuasaan itu memudar dan mulai tanpa rasa. Makanan itu mungkin tak menjadi kesukaan lagi.

Analogikan dengan hidup. Seringkali kita bahagia karena mendapat sesuatu yang jarang kita punya. Si kaya idamkan bahagia dengan hangatnya hidup si miskin. Si miskin pula inginkan bahagia dengan materi si kaya. Balikkan posisi mereka, berapa lamakah kebahagiaan itu bertahan? Setahun? Dua tahun?

Saya ingat ketika berkunjung ke sebuah daerah di Palu, Sulawesi. Moutong namanya. Perjalanan memakan waktu 4 jam dengan pesawat dan dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 9 jam. Pukul 5.30 waktu setempat kami sampai di Moutong dimana saat itu Mentari mulai terbit, naik ke singgahsananya. Itu adalah momen luar biasa yang membuat saya tidak tahan untuk bersorak kegirangan.

Tau apa yang terjadi? Saja jadi bahan tertawaan warga sekitar! Menurut mereka ini adalah hal yang biasa, bukan sesuatu yang menakjubkan hingga harus diberi sorakan.

Lagi, 2 minggu lalu musibah asap berkepanjangan menimpa Sumatera dan Kalimantan. Semua orang berharap akan hujan. Awal-awal turunnya sangat membahagiakan. Semua status di medsos membicarakan hujan, bersyukur akan hujan. Kegembiraan itu hanya berlangsung saat asap masih melingkupi udara kawan! Berikutnya? Keluhan-keluhan mulai berdatangan. Alasannya berbagai kegiatan tak dapat dilakukan karena hujan.

Maka bersyukurlah dengan yang diberikan Allah sesekali kepada kita, karena itulah yang bahagianya merasuk hingga hati. Bersyukurlah nikmat itu Allah berikan satu-persatu, hingga bukan kehampaan yang meliputi hati.

Adakah jaminan kebahagiaan jika yang kau sukai diberikan selalu? Adakah jaminan kebahagiaan saat kau diberikan harta berlimpah, makanan yang enak, teman yang baik secara terus menerus? Tanpa ujian, tanpa kesusahan?
Maka sekali lagi,  bersyukurlah karena apa yang kau sukai diberi Allah sesekali... 

Senin, 19 Oktober 2015

Saat Diri Patah Hati

Yang aku fikirkan tentang cinta selama ini hanya indahnya, bak peminum anggur yang tergiur akan rasa tanpa tahu setelah itu mabuk jadinya. Yang aku fikirkan ketika menyelam dalam sumur cinta hanya manisnya dunia, tanpa terfikir bahwa mawar itu berduri tangkainya..

Dan disaat cinta mulai menampakkan wujud belakangnya, hati mulai merasakan perih tak teredam. layaknya luka disiram air cuka. Saat masalah mulai menghampiri kita ingat akan sajadah lusuh yang sudah lama tak dijatuhi air mata ketika berdoa. Saat hati berduka kita baru akan mengingat sang kuasa.

Duhai diri, bukankan dulu kau selalu meminta kepada Dia? meminta penerangan hati atas petunjuk yang diberikan? lalu mengapa saat doa diijabah kau anggap Tuhan melimpahkan kedukaan?
Bukankah sejak dulu yang kau inginkan adalah yang terbaik menurut dia? lalu mengapa kini kau dustakan?

Saat diri patah hati...
Ingatlah bahwa saat kau pulang, ada wajah ayah ibu yang harus kau ukirkan senyum, bukan berlena-lena untuk mengejar kebahagiaan yang menyesatkan...

Jumat, 21 Oktober 2011

apalah artinya aku tanpa cinta-Mu


berdiri ku dalam sepi
saat bayang kelam mengintai
di tepian lembah
layangkan pandangan
jauh

tanpa sadar hampir jatuh
tapi Dia menahanku

riak hujan mulai terdengar diujung sana
mendekati
langitpun hitam pekat
awan hitam masih menguasai

sepi terasa begitu mencekam
aku tersungkur
bulir2 bening itu jatuh
aku takut ditinggal sendiri
aku takut mati disini

aku takut...

ku dekati Dia
berharap kasih
di sana bayang kelam mulai menjauh
tersamarkan oleh hujan
lenyap bersama air yang jatuh

ku sujud pada-Nya
meminta cinta
di depan cahaya mulai tampak
mendung semakin surut meninggalkan langit
nur Ilahi menaungi

Allah..
menuntunku menuju cahaya itu
terang
tapi tak menyilaukan
hangat
habiskan sisa2 hujan

duhai..
siapalah aku tanpa Dia
apa jadinya aku tanpa belas kasih-Nya
terjebak dalam lembah hitam
bersama bayang kelam

Allah yang merengkuh hatiku dalam cinta
yang menuntun ke jalan cahaya
hingga bayang itu
enggan mendekati

Allah yang menaungiku dengan kasih
yang menyelamatkan diri
hingga mendung itu
berjanji takkan kembali

duhai Allah
yang Maha cinta
jangan lepas rengkuhan-Mu
jangan singkirkanku dari naungan-Mu
karna
apalah artinya aku tanpa cinta-Mu