Menilik makna tentang kebahagiaan
terkadang membuat hati ini bertanya tentang keberadaannya, tentang penyebab dan
dari mana asalnya. Sehingga kita selalu mencari-cari diluar diri, dimana
kebahagiaan itu.
Sementara manusia adalah makhluk
yang takkan pernah merasa tercukupi, sehingga terkadang kebahagiaan itu tampak
samar-samar di ujung jalan.
Kadangpula kita menyalahkan orang
lain yang dirasa tidak ikut dalam perjuangan membahagiakan kita, atau dirasa
menghambat kebahagiaan kita. Sehingga tak jarang hati memaki dari dalam atas
ketidakmampuan mereka.
Padahal hati adalah milik kita
sendiri dan kebahagiaan menjadi tanggungjawab kita sendiri. Kitalah nahkoda yang punya kendali untuk melabuhkan hati di dermaga bahagia, maka tak pantas
rasanya membahagiakan hati kita menjadi tanggung jawab orang lain.
“Jika ingin bahagia, jangan
meletakkan sebuah syarat untuk kebahagiaan itu. Syukurilah yang kau miliki, dan
berbahagialah atas keadaanmu saat ini”, kata-kata dari seorang dosen ini seolah
menari di fikiranku. Ya, seringkali kita sendiri yang mempersulit perasaan
bahagia itu muncul dihati. Meletakkan sebuah syarat yang masih butuh perjalanan
jauh untuk mencapainya.
“Aku akan bahagia jika memiliki
rumah”, “Aku akan bahagia jika bisa keliling Eropa”, “Aku akan bahagia jika
memiliki suami yang tampan dan perhatian”, dan yang paling miris lagi adalah
merasa akan bahagia jika memiliki kehidupan seperti saudaranya.
Kita terlalu larut berkeliling di
luar diri sehingga kita lupa dengan banyaknya nikmat yang sudah Allah beri,
kita terfokus kepada apa yang tak dimiliki sehingga kita lupa betapa banyak
punya kita yang orang lain tak miliki.
Percayalah, disaat kita inginkan
kehidupan orang lain, pada saat itu juga banyak yang inginkan kehidupan seperti
yang kita miliki hari ini.
Maka bersyukurlah, dan
berbahagialah..
Pekanbaru, 10 Desember 2015
Yang sedang berusaha untuk selalu bersyukur
Maya


Tidak ada komentar:
Posting Komentar