Kebahagiaan itu seperti makanan
kesukaan, yang tiap kali nikmati, memberikan kepuasan tersendiri. Coba bayangkan
jika makanan kesukaanmu disuguhkan setiap hari. Perlahan kepuasaan itu memudar
dan mulai tanpa rasa. Makanan itu mungkin tak menjadi kesukaan lagi.
Analogikan dengan hidup. Seringkali
kita bahagia karena mendapat sesuatu yang jarang kita punya. Si kaya idamkan bahagia
dengan hangatnya hidup si miskin. Si miskin pula inginkan bahagia dengan materi
si kaya. Balikkan posisi mereka, berapa lamakah kebahagiaan itu bertahan? Setahun?
Dua tahun?
Saya ingat ketika berkunjung ke
sebuah daerah di Palu, Sulawesi. Moutong namanya. Perjalanan memakan waktu 4
jam dengan pesawat dan dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 9 jam. Pukul
5.30 waktu setempat kami sampai di Moutong dimana saat itu Mentari mulai
terbit, naik ke singgahsananya. Itu adalah momen luar biasa yang membuat saya tidak
tahan untuk bersorak kegirangan.
Tau apa yang terjadi? Saja jadi
bahan tertawaan warga sekitar! Menurut mereka ini adalah hal yang biasa, bukan
sesuatu yang menakjubkan hingga harus diberi sorakan.
Lagi, 2 minggu lalu musibah asap
berkepanjangan menimpa Sumatera dan Kalimantan. Semua orang berharap akan
hujan. Awal-awal turunnya sangat membahagiakan. Semua status di medsos
membicarakan hujan, bersyukur akan hujan. Kegembiraan itu hanya berlangsung
saat asap masih melingkupi udara kawan! Berikutnya? Keluhan-keluhan mulai
berdatangan. Alasannya berbagai kegiatan tak dapat dilakukan karena hujan.
Maka bersyukurlah dengan yang
diberikan Allah sesekali kepada kita, karena itulah yang bahagianya merasuk
hingga hati. Bersyukurlah nikmat itu Allah berikan satu-persatu, hingga bukan
kehampaan yang meliputi hati.
Adakah jaminan kebahagiaan jika
yang kau sukai diberikan selalu? Adakah jaminan kebahagiaan saat kau diberikan
harta berlimpah, makanan yang enak, teman yang baik secara terus menerus? Tanpa
ujian, tanpa kesusahan?
Maka sekali lagi, bersyukurlah karena apa yang kau sukai diberi Allah sesekali...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar